
Ikan sidat (Anguilla spp.) merupakan ikan dari ordo Anguilliformes yang tergolong dalam ikan katadromus. Ikan katadromus yaitu ikan yang bermigrasi diantara perairan tawar dan perairan laut.
Ikan sidat memijah di laut, menghasilkan larva (leptocephalus), dan terbawa oleh turbulensi arus ke arah tepi laut. Leptocephalus berkembang menjadi glass eels yang mulai memiliki perubahan pigmen tubuh, kemudian berkembang menjadi elvers dan mulai memasuki daerah sungai atau estuari.
Elvers berkembang menjadi yellow eels. Selama pematangan, ikan sidat berkembang menjadi silver eels dan kembali ke laut untuk memijah dan mati (Tesch et al., 2003). Menurut Silfvergrip (2009), sidat muda telah memiliki perkembangan pigmentasi tubuh dan berukuran kurang dari 200 mm, sedangkan sidat dewasa memiliki ukuran diatas 200 mm. Elvers merupakan sidat pada stadia muda, sedangkan yellow eels dan silver eels merupakan stadia dewasa.
Ikan sidat tersebar di daerah tropis maupun sub tropis. Terdapat 22 spesies/subspesies ikan sidat yang ditemukan di dunia dan sembilan spesies/subspesies terdapat di Indonesia, yaitu Anguilla bicolor bicolor, Anguilla. nebulosa nebulosa, Anguilla. bicolor pacifica, Anguilla. interioris, Anguilla borneensis, Anguilla Celebesensis, Anguilla marmorata,Anguilla obseura, dan Anguilla megastoma (Sugeha and Suharti, 2008). Daerah penyebaran ikan sidat di Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua (Fahmi, 2015).
Ikan sidat mempunyai banyak keunggulan. Konon, tekstur dagingnya yang lembut mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Tengoklah pasar ikan sidat sekarang. Kebutuhan dunia akan sidat saat ini sekitar 300.000 ton. Dan, khusus di Jepang, permintaannya mencapai 120.000 ton per tahun. Memang, Negeri Matahari Terbit juga membiakkan ikan jenis ini. Hanya, kini 75% di antaranya kudu diimpor lantaran benih di perairan Jepang kian menurun. Hebatnya lagi, dari 18 spesies sidat di dunia, tujuh di antaranya ada di Indonesia. Malah, diduga, nenek moyang ikan mirip belut ini berasal dari perairan Sulawesi.
Makan ikan sidat atau dikenal dengan Unagi, bukanlah makanan biasa, tetapi termasuk termahal di restoran Jepang sehingga bila kita dijamu dengan hidangan makanan tersebut, menunjukkan kita sebagai tamu terhormat. Unagi merupakan suguhan makanan bagi pertemuan pembisnis besar dan terkenal atau tokoh tokoh penting . Karenanya yang terlibat dalam bisnis sidat disana adalah perusahaan besar multi nasional seperti Mitsui, Marubeni, Sasakawa dan lainnya dan perusahaan ini baru mau bekerjasama bila kita mampu memasok kontrak diatas 5.000 ton pertahun .
Indonesia hingga saat ini belum mampu berbuat, walau ada 3 wilayah khusus di perairan kita sebagai tempat pengembangan telur ikan sidat yaitu Poso, Sorong Barat dan Pelabuhan Ratu.
Di Indonesia, keberadaan ikan ini gencar disosialisasikan oleh Rudy SP, Pengusaha dan Konsultan Ikan Sidat, Presdir beberapa perusahaan besar dan dikenal dengan sebutan “raja sidat Indonesia” melalui wadah resmi PT Agromania Mitra Artha (Agromania, www.sidatmania.com) dan Asosiasi Budidaya & Bisnis Ikan Sidat Indonesia
(ABBISI, www.abbisi.com) dengan mengadakan berbagai kegiatan seperti pelatihan, seminar, dan workshop bekerja sama dengan Kementrian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Tambak Pandu Karawang, dan perusahaan2 lainnya baik dari dalam maupun luar negeri. Contoh Unagi Kabayaki (Ikan Sidat Panggang) Produksi PT Agromania yang bisa ditemukan di berbagai supermarket baik dalam maupun luar negeri.





